Author name: admintarbiyah2025

BERITA

Estafet Kepemimpinan Resmi Bergulir, BEM dan HMP Fakultas Tarbiyah Periode 2025/2026 Dilantik dengan Khidmat

Foto prosesi serah terima jabatan kepengurusan BEM Fakultas Tarbiyah, HMP PAI, dan HMP PGMI periode 2025/2026 yang ditandai dengan penyerahan dokumen secara simbolis dari ketua sebelumnya kepada ketua terpilih, disaksikan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah Saman Hudi, S.Ag., M.Si, serta jajaran pimpinan dan pengurus organisasi. Jember – Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember menggelar Pelantikan Raya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) periode 2025/2026 pada Senin, 23 Februari 2026, pukul 10.00 WIB. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi kemahasiswaan di lingkungan fakultas. Acara pelantikan dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta perwakilan mahasiswa. Prosesi diawali dengan pembacaan surat keputusan, dilanjutkan dengan pengambilan sumpah jabatan para pengurus yang dilantik. Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan serah terima jabatan dari ketua periode sebelumnya kepada ketua yang baru sebagai simbol estafet kepemimpinan dan keberlanjutan program organisasi. Dekan Fakultas Tarbiyah, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter kepemimpinan, meningkatkan kapasitas manajerial, serta menumbuhkan semangat kolaborasi di kalangan mahasiswa. Ia berharap kepengurusan periode 2025/2026 mampu menghadirkan program kerja yang inovatif, adaptif, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan akademik maupun nonakademik di Fakultas Tarbiyah. Adapun pimpinan organisasi yang resmi dilantik yaitu Ketua BEM Fakultas Tarbiyah Elma Aenun Nazila, Ketua HMP PAI Siti Aisyah, serta Ketua HMP PGMI Danil Abdillah. Dalam pernyataannya, para ketua yang baru dilantik menyampaikan komitmen untuk menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab serta memperkuat sinergi antarorganisasi di lingkungan fakultas. Melalui pelantikan raya ini, Fakultas Tarbiyah menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan organisasi kemahasiswaan sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan dan pengabdian. Diharapkan kepengurusan BEM dan HMP periode 2025/2026 mampu menjadi motor penggerak kegiatan mahasiswa yang progresif, profesional, dan berintegritas.

BERITA

Audit Mutu Internal oleh LP3M, Fakultas Tarbiyah UIJ Siap Tingkatkan Standar Akademik

Jember – Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Islam Jember melaksanakan kegiatan Audit Mutu Program Studi pada Kamis, 12 Februari 2026. Audit ini menyasar Fakultas Tarbiyah dengan dua program studi, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI). Kegiatan audit menghadirkan auditor mutu, Dr. Arifin Nur Budiono, M.Si, yang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola akademik, proses pembelajaran, serta implementasi standar penjaminan mutu di tingkat fakultas dan program studi. Sebagai auditee, Fakultas Tarbiyah dipimpin oleh Dekan Saman Hudi, S.Ag., M.Si, didampingi oleh Wakil Dekan Muhammad Ilyas, S.Pd.I., M.Pd.I. Turut hadir Ketua Program Studi PGMI Elga Yanuardianto, S.Pd.I., M.Pd.I, serta Ketua Program Studi PAI Prima Cristi Crismono, S.Pd., M.Pd, bersama tim penjaminan mutu fakultas. Audit dilaksanakan melalui tahapan pemeriksaan dokumen akademik, evaluasi keterlaksanaan standar mutu internal, validasi data dukung, serta sesi klarifikasi dan diskusi bersama pimpinan fakultas dan program studi. Fokus audit mencakup kesesuaian pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, kelengkapan administrasi pembelajaran, capaian pembelajaran lulusan, hingga efektivitas sistem monitoring dan evaluasi yang diterapkan. Dalam arahannya, Dr. Arifin Nur Budiono, M.Si menegaskan bahwa audit mutu merupakan instrumen strategis untuk memastikan sistem berjalan sesuai standar sekaligus mendorong perbaikan berkelanjutan. Audit bukan hanya proses penilaian, tetapi juga pembinaan guna memperkuat budaya mutu di setiap unit kerja. Dekan Fakultas Tarbiyah, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan audit tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum refleksi bersama dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan layanan akademik. “Kami berkomitmen untuk terus melakukan penguatan sistem penjaminan mutu demi menghasilkan lulusan yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing,” ujarnya. Melalui Audit Mutu Program Studi yang dilaksanakan oleh LP3M ini, Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember diharapkan semakin kokoh dalam menerapkan standar mutu internal serta konsisten meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan institusi.

BERITA

LP3M Gelar Monev Pembelajaran, PAI dan PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ Perkuat Mutu Akademik

Jember – Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Islam Jember menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pembelajaran Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 di lingkungan Fakultas Tarbiyah. Kegiatan ini menyasar Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Monev dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen institusi dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik secara berkelanjutan. Dalam kegiatan tersebut, LP3M menghadirkan auditor, Rita Sri Kurniawati, S.ST., M.PH, yang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di kedua program studi. Proses evaluasi mencakup pemeriksaan dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS), kesesuaian pelaksanaan perkuliahan dengan standar mutu, kelengkapan administrasi dosen, hingga sistem evaluasi hasil belajar mahasiswa. Selain itu, dilakukan sesi diskusi bersama pimpinan program studi dan dosen untuk membahas capaian, kendala, serta strategi penguatan mutu pembelajaran. Dekan Fakultas Tarbiyah, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan Monev ini menjadi momentum refleksi dan evaluasi bersama dalam meningkatkan kualitas akademik. Ia menegaskan bahwa budaya mutu harus terus dibangun melalui evaluasi yang objektif dan berkelanjutan. “Melalui monitoring dan evaluasi ini, kita memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, sekaligus menjadi dasar untuk perbaikan dan inovasi ke depan,” ujarnya. Secara umum, pelaksanaan pembelajaran di Prodi PAI dan PGMI dinilai telah berjalan baik dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Beberapa rekomendasi perbaikan diberikan sebagai langkah strategis dalam rangka peningkatan kualitas layanan akademik. Dengan terselenggaranya Monev oleh LP3M ini, diharapkan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember semakin optimal dalam mencetak lulusan yang profesional, berintegritas, dan siap menghadapi dinamika dunia pendidikan.

Opini

Ketika Pengabdian Dijadikan Alasan untuk Tidak Sejahtera

Kritik terhadap narasi moral yang membungkam tuntutan kesejahteraan Di Indonesia, kata pengabdian kerap dilekatkan pada profesi guru dan dosen. Ia terdengar luhur, sarat nilai moral, dan seolah menjadi inti dari panggilan profesi pendidik. Namun, di balik kemuliaan itu, pengabdian sering dipelintir menjadi pembenaran atas rendahnya kesejahteraan. Tuntutan untuk mengajar dengan sepenuh hati berjalan beriringan dengan honor dan gaji yang jauh dari kata layak. Ketika suara kritis muncul, narasi moral segera dihadirkan: pendidik seharusnya ikhlas, bukan menuntut. Guru honorer menjadi potret paling jelas dari persoalan ini. Mereka dituntut profesional, diminta memenuhi standar administrasi dan pedagogik yang kian kompleks, tetapi menerima honor yang tidak sebanding dengan beban kerja. Alih-alih solusi struktural, negara dan masyarakat sering kali merespons dengan ajakan bersabar. Seakan-akan memperjuangkan hak ekonomi bertentangan dengan etos pengabdian, padahal keduanya seharusnya berjalan seiring. Situasi serupa dialami dosen, terutama dosen non-PNS atau berstatus kontrak. Tri Dharma Perguruan Tinggi menuntut dosen untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat secara simultan. Standar kinerja terus dinaikkan, mulai dari kewajiban publikasi ilmiah hingga akreditasi institusi. Ironisnya, peningkatan tuntutan tersebut tidak selalu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan. Dosen diminta berdaya saing global, tetapi dihargai dengan kompensasi yang bersifat lokal dan minimal. Dalam kondisi seperti ini, pengabdian bertransformasi dari nilai etik menjadi kewajiban sepihak. Institusi pendidikan menuntut loyalitas penuh, sementara hak dasar pendidik kerap dinegosiasikan. Kritik terhadap sistem sering dianggap sebagai sikap tidak bersyukur, bahkan dicurigai mencederai martabat profesi. Moralitas digunakan sebagai alat pembungkaman, bukan sebagai dasar keadilan. Masalahnya bukan terletak pada pengabdian itu sendiri. Pengabdian adalah ruh profesi pendidik. Namun, ketika pengabdian dijadikan alasan untuk menunda pemenuhan kesejahteraan, yang terjadi adalah ketidakadilan yang dilembagakan. Pengabdian tidak seharusnya berarti hidup dalam kerentanan ekonomi, apalagi bagi mereka yang memikul tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengabdian dan kesejahteraan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Guru dan dosen yang sejahtera justru memiliki ruang psikologis dan profesional untuk mengajar, meneliti, dan membimbing secara optimal. Sebaliknya, pendidik yang terus bergulat dengan persoalan ekonomi berisiko kehilangan fokus, energi, bahkan idealisme. Sudah saatnya negara dan pemangku kebijakan mengubah cara pandang. Menghargai pengabdian tidak cukup dengan retorika dan slogan, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan konkret yang menjamin upah layak, kepastian status kerja, dan perlindungan profesional. Tanpa itu, pengabdian hanya akan menjadi kata indah yang menutupi ketimpangan. Pada akhirnya, pengabdian yang sejati bukanlah pengorbanan tanpa batas, melainkan kerja bermakna yang dihargai secara adil. Jika pengabdian terus dijadikan alasan untuk tidak sejahtera, maka yang sedang kita rawat bukan idealisme, melainkan ketidakadilan yang diwariskan dari satu generasi pendidik ke generasi berikutnya. Penulis : Prima Cristi Crismono

Opini

Mengajar di Era Digital: Ketika Teknologi Menjadi Mitra, Bukan Pengganti

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Proses belajar mengajar yang dahulu berlangsung secara konvensional di ruang kelas, kini meluas ke ruang digital tanpa batas. Platform pembelajaran daring, video interaktif, Learning Management System (LMS), hingga kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian dari keseharian guru, dosen, dan mahasiswa. Teknologi memberikan kemudahan akses yang luar biasa. Materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Diskusi tidak lagi terbatas pada jam tatap muka. Referensi ilmiah tersedia dalam hitungan detik. Bahkan, proses evaluasi pun dapat dilakukan secara otomatis dan lebih efisien. Dalam konteks ini, teknologi mampu meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan karakter, nilai, dan etika. Interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik memiliki dimensi emosional dan moral yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar dan algoritma. Sentuhan empati, keteladanan, serta dialog yang mendalam tetap menjadi inti dari proses pendidikan. Selain itu, kesenjangan akses teknologi masih menjadi persoalan nyata. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat dan koneksi internet yang memadai. Jika tidak dikelola dengan bijak, integrasi teknologi justru dapat memperlebar jurang ketimpangan pendidikan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi harus disertai dengan kebijakan yang inklusif dan berpihak pada pemerataan akses. Hadirnya kecerdasan buatan juga menuntut peningkatan literasi digital. Mahasiswa perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, bukan sekadar untuk mencari jawaban instan, tetapi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Di sisi lain, pendidik dituntut untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar tetap relevan di tengah perubahan yang cepat. Pada akhirnya, teknologi seharusnya diposisikan sebagai mitra dalam proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru atau dosen. Keseimbangan antara inovasi digital dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kunci utama. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara optimal, tanpa kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan manusia yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas. Dengan pendekatan yang bijaksana, teknologi dapat menjadi jembatan menuju pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus tetap menjaga esensi pendidikan sebagai sarana membangun peradaban. Penulis : Elga Yanuardianto

PENGUMUMAN

Pendaftaran Sidang Skripsi Telah Dibuka

Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember secara resmi membuka Pendaftaran Sidang Skripsi bagi mahasiswa Program Sarjana (S1). Mahasiswa diharapkan segera melakukan pendaftaran sesuai dengan jadwal dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh fakultas dan program studi. Pelaksanaan sidang skripsi akan dilakukan sesuai agenda akademik yang berlaku. Informasi lebih lanjut terkait alur pendaftaran dan jadwal pelaksanaan sidang dapat diperoleh melalui program studi masing-masing atau pengumuman resmi fakultas.  

BERITA

Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ Raih Juara 1 Berenthem Exhibition Vol. 1 Jember

Jember – Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember kembali mencatatkan capaian positif dalam kegiatan olahraga bela diri. Taufiq Bal Afif, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), berhasil meraih Juara 1 pada event Berenthem Exhibition Vol. 1 yang mengusung tema Rise of the Champions. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2026 di Gedung Serbaguna Kaliwates, Jember. Berenthem Exhibition Vol. 1 menjadi ajang eksibisi yang menghadirkan atlet-atlet bela diri dari berbagai latar belakang untuk menampilkan kemampuan terbaiknya dalam suasana kompetitif yang menjunjung tinggi sportivitas. Keberhasilan meraih juara pertama dalam ajang eksibisi ini menunjukkan kesiapan teknik dan mental tanding yang dimiliki Taufiq Bal Afif. Partisipasinya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses pembelajaran melalui pengalaman bertanding secara langsung di hadapan publik. Taufiq Bal Afif merupakan mahasiswa asal Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, yang lahir di Jember pada tanggal 16 Februari 2005. Selain aktif mengikuti perkuliahan di Program Studi PGMI, ia secara konsisten mengembangkan minat dan bakat di bidang olahraga bela diri melalui berbagai ajang kompetisi dan eksibisi. Ketua Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ, Dr. Elga Yanuardianto, M.Pd.I, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan menguji kemampuan diri di ruang publik. Ia menilai pengalaman seperti ini sangat bernilai dalam membentuk sikap percaya diri dan kemandirian mahasiswa. Dekan Fakultas Tarbiyah UIJ, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, menyatakan bahwa prestasi juara pertama ini menjadi indikator positif dari proses pembinaan mahasiswa di Fakultas Tarbiyah. Ia berharap capaian tersebut dapat menumbuhkan semangat berprestasi dan mendorong mahasiswa lain untuk aktif mengembangkan potensi diri secara bertanggung jawab. Melalui prestasi ini, Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember terus memperkuat komitmennya dalam mendukung mahasiswa untuk berprestasi dan berkontribusi positif, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

BERITA

Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ Ukir Prestasi di Jember Fight Championship

Jember – Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat regional. Taufiq Bal Afif, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), berhasil meraih Juara 1 kategori Amatir kelas 60 kg pada ajang Jember Fight Championship. Kejuaraan tersebut diselenggarakan oleh Unit Bela Diri Mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember pada tanggal 22 November 2025. Ajang ini menjadi sarana kompetisi bagi atlet bela diri dari berbagai perguruan dan komunitas yang ada di wilayah Jember dan sekitarnya. Capaian juara pertama ini menunjukkan kesiapan fisik, mental, serta ketekunan Taufiq Bal Afif dalam menjalani proses latihan dan pertandingan. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi dan kerja keras dapat menghasilkan capaian yang membanggakan. Taufiq Bal Afif merupakan mahasiswa asal Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, yang lahir di Jember pada tanggal 16 Februari 2005. Selain menjalani perkuliahan, ia aktif mengembangkan potensi diri melalui kegiatan olahraga bela diri secara berkelanjutan. Ketua Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ, Dr. Elga Yanuardianto, M.Pd.I, menilai prestasi ini sebagai gambaran positif dari pembinaan karakter mahasiswa. Menurutnya, pengalaman bertanding di arena kompetisi turut melatih sikap disiplin, tanggung jawab, serta ketangguhan mental yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan akademik dan sosial. Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah UIJ, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Fakultas Tarbiyah mampu menyalurkan energi dan bakatnya melalui jalur yang produktif. Ia berharap prestasi ini dapat mendorong terciptanya iklim kompetitif yang sehat di lingkungan fakultas, sekaligus memperkuat citra Fakultas Tarbiyah sebagai ruang tumbuhnya mahasiswa berprestasi. Prestasi ini diharapkan dapat memacu semangat mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi positif bagi institusi serta masyarakat.

BERITA

Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ Raih Juara 3 Silat di Ajang Tarung Bebas 2 Banyuwangi

Jember – Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember kembali menunjukkan kiprahnya di bidang olahraga bela diri tradisional. Taufiq Bal Afif, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), berhasil meraih Juara 3 Silat kategori Sport Pendekar Muda kelas 61 kg putra dalam kegiatan Tarung Bebas 2. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Banyuwangi pada tanggal 24–26 Oktober 2025. Ajang ini diikuti oleh pesilat muda dari berbagai daerah dan menjadi wadah kompetisi untuk menampilkan kemampuan teknik, ketangguhan fisik, serta sikap sportif antar peserta. Prestasi ini menambah daftar capaian non-akademik yang diraih mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIJ. Keikutsertaan Taufiq Bal Afif dalam ajang pencak silat ini menunjukkan semangat berproses dan keberanian untuk berkompetisi secara sehat. Taufiq Bal Afif merupakan mahasiswa asal Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, yang lahir di Jember pada tanggal 16 Februari 2005. Ia dikenal aktif mengembangkan minat dan bakat di bidang bela diri di samping menjalani aktivitas perkuliahan. Ketua Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah UIJ, Dr. Elga Yanuardianto, M.Pd.I, menyampaikan bahwa prestasi tersebut menjadi cerminan mahasiswa yang mampu mengelola waktu dan komitmen dengan baik. Ia menilai pengalaman mengikuti kejuaraan pencak silat turut membentuk keteguhan sikap, kepercayaan diri, serta etos berjuang yang bermanfaat bagi perjalanan akademik mahasiswa. Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah UIJ, Saman Hudi, S.Ag., M.Si, menyampaikan bahwa capaian ini menunjukkan keberhasilan mahasiswa dalam menyalurkan potensi diri melalui jalur yang konstruktif. Ia berharap prestasi di bidang olahraga tradisional dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk aktif berkegiatan dan memperkaya pengalaman selama masa studi. Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember terus berupaya menciptakan lingkungan akademik yang mendukung tumbuhnya prestasi mahasiswa dalam berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik.

Scroll to Top